SEJARAH ETNIK KAYAN/KAYAAN Bahagian 2

Sep 2, 2011 noel_along93    2 Comments    Posted under: Uncategorized

PENDAHULUAN

Click ‘bar’  below to listen to Sape’ music :

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Foto 1. Festival hudo’ di Long HuvungSeperti telah disebutkan di bagian 1 dari Seri Mengenal Sejarah Etnik Kaya:n ini, orang Kaya:n merupakan imigran dari daratan Asia Timur (China Selatan) yang bermukim di kawasan Sungai Baram dan Brunei. Dari sini mereka kemudian berangsur-angsur menyebar ke berbagai wilayah di Sarawak. Sebelum abad ke-15, orang Kayan sudah mendiami wilayah Selatan Baram, Busang, Tinjar, Baluy, dan Apau/Apo Duat. Pada abad ke-16 hingga 17, arah ekspansi secara bertahap beralih ke kawasan pesisir Timur Laut dan Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Migrasi secara besar-besaran baru terjadi pada abad ke-17. Pada masa inilah orang Kaya:n mulai memasuki dan mendiami kawasan Kaya:n. Dari tempat ini mereka kemudian berekspansi lebih jauh lagi ke wilayah Bulungan, Berau, Kutai hingga Kalimantan Barat.

Selama proses migrasi berlangsung, orang Kaya:n menganeksasi berbagai kawasan dan mengusir penduduk lokal sehingga menimbulkan kekacauan selama beberapa abad di Kalimantan Timur. Migrasi yang membawa teror ini baru berhenti pada awal abad ke-20 setelah dicapai perdamaian di wilayah-wilayah yang didiami orang Kaya:n.

Foto 2

PENYEBAB MIGRASI

Ada beberapa faktor penyebab migrasi orang Kaya:n, salah satunya adalah masalah ekonomi. Populasi yang terus meningkat membuat mereka perlu lebih banyak sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagian dari mereka kemudian memisahkan diri dan bergerak ke wilayah lain.

Faktor berikut yang nampaknya sangat dominan dalam sejarah migrasi suku Kaya:n adalah peperangan. Dalam proses migrasi tidak jarang terjadi pertumpahan darah antara orang Kaya:n dengan kelompok etnik lain dalam memperebutkan sumber daya alam. Pertumpahan darah juga sering terjadi karena kegemaran orang Kaya:n melakukan praktek berburu kepala manusia (headhunting, ngayau, ngayo). Sementara peperangan antara sesama orang Kaya:n juga kerap meletus karena dipantik oleh kepentingan-kepentingan pribadi seperti perebutan kedudukan dan pengaruh, pelanggaran adat hingga masalah perempuan.

Beberapa peristiwa besar yang terjadi di kesultanan-kesultanan Melayu ikut mewarnai perjalanan sejarah etnik Kaya:n. Penaklukan kesultanan Brunei oleh penjajah Portugis pada abad ke-17 telah memecut sejumlah besar orang Kaya:n menjauh dari kawasan konflik tersebut dan pindah ke Apau Kaya:n. Demikian juga dengan pendudukan kesultanan Bulungan oleh Tidung dan Sulu, membuka peluang bagi orang Kaya:n yang suka meng-ayau ini menjadi “mesin perang” bagi para sultan di sana untuk mewujudkan ambisi politik dan ekonomi mereka.

MIGRASI KE KAWASAN KAYA:N

Foto 3Penaklukan Sungai Kaya:n

Sungai Kaya:n dulunya dikenal oleh penduduk lokal dengan nama sungai Bulungan. Kawasan ulu sungai Bulungan didiami oleh orang Menung, Ot Danum, Punan, dll. Pada awal abad ke-17, orang Ga’ay dari Sarawak datang ke tempat ini lalu mendiami bagian Tengah dan Ilir. Salah satu dari kelompok perintis ini adalah nenek moyang orang Long Way dibawah hipuy Eng Kan Yaw yang menetap di dekat Riam Avun/Hewon. Orang Kaya:n ini lalu mengganti nama sungai tersebut dengan nama Kejin/Kaya:n (“wilayah kami”).

Dengan bertambahnya jumlah para imigran mula-mula ini, orang Kaya:n kemudian berekspansi ke arah ulu sungai. Pada masa ini mulai muncul sejumlah kekuatan dominan di kawasan tersebut. Kekuatan pertama adalah orang Ga’ay Long Way yang pindah ke Kaya:n Iut (anak sungai Kaya:n). Kekuatan kedua adalah orang Ga’ay Melean/Melan yang menempati kawasan ulu sungai Kaya:n. Pada pertengahan abad ke-17 muncul kekuatan ketiga dengan datangnya orang Ga’ay Long Glat bersama sekutunya Kaya:n Busa:ng, lalu menetap di kawasan ulu sungai Kaya:n.

Populasi orang Kaya:n yang kian bertambah menyebabkan terjadinya persaingan di antara sesama mereka dan sering berujung dengan peperangan. Salah satu perang saudara yang terjadi pada fase awal ini adalah antara Ga’ay Long Way dengan Ga’ay dari desa lainnya (Melean atau Long Glat). Peperangan dua desa ini kemudian memicu perang besar di seluruh kawasan Kaya:n. Meskipun pada akhirnya perang tersebut dimenangkan oleh orang Long Way, mereka kemudian secara berangsur-angsur meninggalkan wilayah Kaya:n karena terdesak oleh Ga’ay Long Glat dan sekutunya Kaya:n Busa:ng.

Kawasan Kaya:n juga menjadi medan peperangan antara etnik Kaya:n dengan penduduk asli seperti Menung, Ot Danum dan Punan. Orang Ga’ay Long Way dan sekutunya Ga’ay Melean menaklukkan orang Menung/Ot Danum sehingga membuat mereka melarikan diri dari kawasan Kaya:n. Orang Kaya:n Uma:’ Juma:n dan Ga’ay Long Huvung (pecahan Ga’ay Melean) terlibat peperangan dengan orang-orang Punan.

Kendati seluruh kawasan Kaya:n pada akhirnya dikuasai oleh etnik Kaya:n, tetapi wilayah ini nampaknya telah berubah menjadi wilayah konflik berkepanjangan selama lebih dari dua abad. Akibat peperangan yang terjadi terus-menerus ini, banyak orang Kaya:n terpaksa pindah ke daerah lain, seperti ke Kaya:n Ilir, Malinau, Tabang, Kelinjau, Wahau, Telen, Kelai, Segah, Belayan dan Mahakam. Sebagian kecil lagi memilih kembali ke Sarawak (Baram dan Baluy).

Foto 4Penyerahan Apau Kaya:n kepada Kenyah

Fase terakhir suku Kaya:n tinggal di kawasan Kaya:n terjadi sekitar pertengahan abad ke-19 . Pada masa itu, kawasan tersebut terbelah menjadi dua kubu yang tengah berseteru. Aliansi Kaya:n Uma:’ Laran terdiri atas 23 desa dibawah kepemimpinan hipuy maran (paramount chief) Ngaw Wa:n Luhung. Sedangkan aliansi lawannya dibawah komando hipuy Ga’ay Long Glat, Lejiw “Aya’” (Lejiw Do:m Ba:ng Lawing) dan putranya Ding “Tung”, berjumlah 24 desa. Peperangan akhirnya dimenangkan oleh aliansi Long Glat yang dibantu oleh orang Kenyah. Ketika itu, orang Kenyah sedang berusaha masuk ke Apau Kaya:n, lalu menawarkan bantuan kepada Lejiw.

Kaya:n Uma:’ Laran dan sekutunya yang masih hidup kemudian melarikan diri dari Apau Kaya:n. Bahau Hwang Tri:ng dan Bahau Hwang Tembaw, pindah ke Mahakam. Orang Uma:’ Laran terpencar, ada yang menuju ke sungai Bahau, ada pula yang ke Kaya:n Ilir. Di sana mereka kemudian berbaur dengan orang Ga’ay Long Ba’un dan Kaya:n Uma:’ Heban. Peperangan tersebut masih diingat oleh orang Uma:’ Laran sebagai peristiwa Bawa:ng Baluy (dekat Long Ampung), karena banyaknya korban mati yang menyebabkan warna air danau berubah merah.

Menurut penuturan orang Kenyah Uma:’ Tukung, setelah peperangan usai, Lejiw “Aya’” lalu mengadakan pesta dan mendirikan sebuah pilar kayu yang di atasnya dipasang patung burung enggang (hornbill sculpture) sebagai tanda aliansi dan persaudaraan abadi antara Kenyah dengan Kaya:n. Sejak itulah orang Kenyah menggunakan patung burung enggang di dalam upacara perkawinan dan upacara lainnya sebagai tanda perdamaian dan persaudaraan.

Lejiw “Aya’” kemudian menyerahkan Apau Kaya:n yang telah dikuasi oleh suku Kaya:n selama lebih dari 200 tahun kepada orang Kenyah. Dia dan anaknya Ding “Tung” serta para pengikutnya lalu menuju ke Mahakam Ulu melalui sungai Boh untuk bergabung dengan orang Kaya:n yang lebih dulu menetap di sana. Wilayah Mahakam ini kemudian menjadi tempat konsentrasi etnik Kaya:n paling banyak di Kalimantan Timur.

BEREKSPANSI KE KAWASAN MALINAU

Migrasi ke Sungai Bahau

Sebelum orang Ga’ay bermigrasi ke kawasan Kaya:n, Sungai Bahau (anak Sungai Kaya:n) di Malinau telah lebih dulu didiami oleh orang Bahau dan Kaya:n (subgroup). Hal ini cukup masuk akal mengingat tempat asal mereka di Apo Duat dan Baram Ulu dekat dengan Sungai Bahau sehingga mudah dijangkau. Para imigran mula-mula ini adalah Merap, Hopan atau Uma:’ Apan, Hwang Siraw dan Ngoreak dari kelompok Bahau, serta Uma:’ Heban, Uma:’ Laran, Uma:’ Suling, dan Uma:’ Lekan/Uma:’ Lasa:n dari kelompok Kaya:n.

Sebelum abad ke-17, Bahau Uma:’ Apan dan Bahau Hwang Siraw kemudian meninggalkan Sungai Bahau menuju kawasan lain. Orang Uma:’ Apan mendiami kawasan Sungai Kaya:n Ilir (pesisir Bulungan) dan beraliansi dengan penduduk lokal. Sementara Hwang Siraw menetap di Mahakam Tengah lalu beraliansi dengan penduduk Kutai. Kedua kelompok ini merupakan imigran Kaya:n yang mula-mula pindah ke wilayah Bulungan dan Kutai.

Hegemoni Orang Bahau Merap di Malinau

Orang Bahau Merap yang datang dari Sungai Bahau, sempat menjadi kekuatan dominan di Malinau dalam memperebutkan hasil-hasil hutan seperti sarang burung walet. Bersama sekutunya orang Punan lokal, orang Merap memerangi orang Gong Solok, Burusu’, Bengalun, Tenggalan serta Tidung dan mendepak mereka ke kawasan pesisir. Orang Bahau Merap ini juga memerangi orang Kaya:n lain yang menjadi rival mereka, seperti Kaya:n Uma:’ Laran, Kaya:n Uma:’ Heban, Bahau Ngoreak, Segai (Ga’ay), dan pecahan Merap, Uma:’ Liya:ng Kalu:ng. Pada masa kepemimpinan Ala:ng Caw dan Ala:ng Empang, mereka berhasil meneguhkan hegemoni di seluruh kawasan Malinau, yang meliputi Sungai Bahau, Sungai Malinau, dan Sesayap Tengah.

BEREKSPANSI KE KAWASAN BULUNGAN DAN BERAU

Foto 5Orang Kayan di Bulungan

Ada tiga kelompok Kaya:n yang saling berperang satu sama lain di kawasan Bulungan ini. Pertama, yang lebih dulu bermigrasi adalah Bahau Uma:’ Apan dan pemimpinnya Ga’ay Gong Kiya:n (Seloy) yang mendiami kawasan Sungai Kaya:n Ilir dan pesisir. Kelompok kedua dan pendatang baru adalah Ga’ay Long Ba’un dan Kaya:n Uma:’ Laran yang melarikan diri dari Apau Kaya:n. Kelompok ketiga adalah Bahau Merap yang mendominasi wilayah Malinau.

Orang Kaya:n yang suka berperang ini, khususnya Bahau Uma:’ Apan dan Ga’ay Gong Kiya:n, kemudian dimanfaatkan oleh sultan pertama hingga ketiga dari Bulungan untuk memerangi Kerajaan Tidung. Kala itu, Bulungan merupakan wilayah koloni Kerajaan Tidung yang berpusat di pulau Tarakan. Selain itu, para sultan tersebut juga memakai orang Kaya:n yang mereka sebut Segai ini untuk menghancurkan pusat-pusat perdagangan milik Kesultanan Sulu yang ada di kawasan pesisir. Dari tahun 1830-1880, pusat perdagangan tersebut nyaris lenyap dari wilayah pesisir disapu orang Segai.

Orang Kaya:n di Berau

Selama proses migrasi dari Apau Kaya:n ke Mahakam, orang Ga’ay Long Way terpecah menjadi 4 kelompok. Long Lesa:n menuju Sungai Kelai Ulu, Long Bleah ke Sungai Belayan Tengah, “Long Way Pen”/Long Way ke Sungai Kelinjau Tengah, dan Long Tesak ke Sungai Pari (kemudian pindah ke Kelinjau).

Di Berau, terjadi konflik berkepanjangan antara orang Ga’ay Long Lesa:n dengan penduduk lokal dan pendatang Bugis. Nampaknya ada dua sebab yang memicu peperangan tersebut. Pertama, Islamisasi yang dilakukan oleh sultan Berau Sambaliung dan sekutunya Bugis telah membangkitkan sikap bermusuhan dari orang Segai tersebut. Kedua, hasil hutan berupa sarang burung walet adalah komoditi perdagangan yang bernilai tinggi dan menjadi rebutan antara orang Segai, penduduk lokal, Sulu dan pendatang Bugis.

Sebagaimana terjadi di kawasan lain, peperangan antara sesama Kaya:n juga terjadi di sini. Orang Wehea dari Wahau berkali-kali menyerang orang Segai dari Kelai seperti Ga’ay Long Lesa:n dan Ga’ay Bea Ling. Konflik di wilayah ini baru berakhir pada awal abad ke-20 setelah para sultan Bulungan dan Kutai mengangkat para hipuy Segai ini sebagai saudara atau anak angkat dan mempromosikan perkawinan antar keturunan hipuy.

BEREKSPANSI KE KAWASAN KUTAI

Orang Kaya:n yang bermigrasi ke wilayah Kesultanan Kutai bisa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama yang mula-mula datang adalah Bahau Hwang Siraw dan Bahau Hwang Anah. Kelompok berikutnya adalah kelompok Ga’ay Wehea yang datang dari kawasan Kong Kemul di Kaya:n Iut bagian Tengah. Kelompok terakhir adalah Ga’ay Long Way dan Bahau Hwang Muyut yang masuk lewat sungai Tavaeng/Tabang.

Ketika di Kong Kemul, kelompok Ga’ay Long Nah dan Ga’ay Wehea pernah beraliansi dengan kelompok Punan di sana. Tetapi munculnya Ga’ay Long Way dan Ga’ay Long Glat sebagai kekuatan dominan di kawasan tersebut membuat orang Long Nah dan Wehea beralih ke wilayah lain. Orang Long Nah menuju ke Sungai Kelai dan Sungai Segah di Berau, sementara orang Wehea pindah ke Sungai Telen dan Sungai Wahau di Kutai.

Orang Ga’ay Long Way belakangan menyusul ke wilayah Kutai setelah terdesak oleh Ga’ay Long Glat dan sekutunya di kawasan Kaya:n. Mereka masuk dari ulu sungai Belayan. Menurut cerita orang Kutai, nama Sungai Belayan berasal dari bahasa Kutai “bala Kayan” yang berarti barisan orang Kayan. Karena ketika turun dari daerah ulu, orang Kaya:n ini berjalan berbaris di sepanjang sungai.

Kawasan Belayan ini pada mulanya didiami oleh suku Tunjung-Benuaq dan Punan. Orang Tunjung-Benuaq kemudian tersingkir dari wilayah ini setelah diserang berulang kali oleh orang Ga’ay (Long Way, Long Nah, Long Jengean, Wehea) dan Bahau (Hwang Muyut) yang datang dari Apau Kaya:n. Untuk membantu mereka menjaga wilayah ini, orang Long Way kemudian membentuk aliansi dengan orang Punan Kelay dan berada dibawah kendali mereka.

BEREKSPANSI KE KAWASAN MAHAKAM

Foto 6Penemuan Sungai Mahakam

Setelah mengalahkan orang Menung/Ot Danum di Apau Kaya:n, etnik Kaya:n dengan mudah memperoleh akses ke sungai Mahakam. Tidak hanya lewat sungai Belayan dan Telen yang ada di bagian Timur, tetapi juga lewat sungai Boh, Ogah dan Tepai yang ada di sebelah Barat. Kebanyakan suku Kaya:n yang datang kemudian ke Mahakam ini memilih lewat Barat untuk menghindari serangan orang Ga’ay Long Way di Belayan yang dibantu oleh sekutunya, Punan Kelay.

Orang Kaya:n yang mula-mula tiba di Mahakam adalah kelompok Bahau Hwang Siraw dan Bahau Hwang Anah, yang masuk lewat Sungai Belayan dan Sungai Telen pada awal abad ke-17. Kelompok berikutnya datang dari Apau Kaya:n kemudian menetap di Mahakam Ulu, terjadi pada pertengahan abad ke-17. Termasuk dalam kelompok kedua ini adalah Kayan Meka:m dan Ga’ay Long Glat dibawah hipuy Hi:t Beang/Luha:t Ba:ng. Orang Kaya:n ini kemudian mengganti nama Sungai Kutai tersebut menjadi Mekiam Puyn/Meka:m Aya’ (“sungai lebar, laut”). Dalam bahasa Melayu kemudian disebut Mahakam.

Memperluas Teritori

Nampaknya, orang Kaya:n memerlukan waktu lebih dari satu abad untuk membuka hutan belantara di kawasan Mahakam Ulu. Untuk memperluas wilayah teritorialnya, mereka lalu menyerang orang-orang Ot Danum, Penihing, Tera:n, Sia:ng, Maloh, Punan dan Bukat yang lebih dulu bermukim di sana. Kebanyakan penduduk asli ini kemudian melarikan diri ke wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Tetapi beberapa kelompok etnik yang bersedia berada dibawah kontrol orang Ga’ay Long Glat, seperti orang Penihing dan Punan, dibiarkan tinggal di kawasan ini.

Setelah berhasil menancapkan kakinya di Mahakam Ulu, pada akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19, sejumlah besar etnik Kaya:n masuk ke daerah ini. Mereka kemudian memperluas wilayah hingga ke Mahakam Tengah dengan memerangi dan mengusir orang-orang Tunjung-Benuaq yang merupakan penduduk lokal. Hal ini memicu kekacauan di seluruh kesultanan Kutai. Akhir abad ke-19, dicapai perdamaian di masa pemerintahan Raja Dinda (Lenget Lung Hela’ Haeng, hipuy Long Way), yang diangkat sebagai saudara dan tangan kanan sultan Kutai di kawasan Mahakam.

KELUAR MASUK SARAWAK

Foto 7Menuju Baluy

Beberapa kelompok Kaya:n yang telah bermigrasi ke Apau Kaya:n memutuskan kembali lagi ke Sarawak akibat peperangan. Kaya:n Uma:’ Juma:n dibawah kepemimpinan Dian: Kula:n, misalnya, pindah ke Long Itam di ulu Sungai Baluy setelah Dia:n membunuh hipuy orang Punan dari ulu Tabang, Hajung Palo’. Ga’ay Long Huvung kemudian menyusul Uma:’ Juma:n ke Baluy, juga setelah Liah Lejiw membunuh hipuy orang Punan Kelay. Liah Lejiw alias Liah “Telap” adalah hipuy Long Huvung dan menantu dari Dia:n Kula:n karena menikah dengan Buring anak Dia:n.

Sekutu lain Uma:’ Juma:n yang belakangan ikut bergabung ke Baluy adalah Kaya:n Uma:’ Suling. Kelompok terakhir ini aslinya bukan Kaya:n Busa:ng, tetapi Kaya:n yang berasal dari ulu sungai Bahau. Nampaknya, dari sana mereka kemudian pindah ke ulu Sungai Kaya:n lalu beraliansi dengan Uma:’ Juma:n dan Long Huvung.

Meninggalkan Baluy

Di Baluy, Dia:n Kula:n kemudian melamar nya:m doh maran (gadis bangsawan) Uma:’ Suling, Silaw. Di tengah pembicaraan di amin aya’ (rumah adat), orang Uma:’ Suling melihat abe:k Dia:n Kula:n sedikit menggantung keluar dari celah cawatnya. Mereka tidak dapat menahan tawanya sehingga membuat Dia:n Kula:n marah dan membatalkan perkawinan tersebut.

Akibat kejadian itu, orang Uma:’ Suling kemudian melarikan diri dari Baluy untuk menghindari serangan Dia:n Kula:n. Ketika sampai di Long Manyivung (di Sungai Baleh), mereka terpecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok menuju Sungai Mahakam, satunya lagi menuju Kapuas di Kalimantan Barat.

Sebelum pertengahan abad ke-19, baik Uma:’ Juma:n maupun Long Huvung, meninggalkan Baluy menuju Mahakam Ulu. Di sini nampaknya aliansi kedua kelompok tersebut terpecah karena terlibat konflik dengan Long Glat. Long Huvung kemudian meninggalkan Mahakam Ulu dan mengungsi ke sekitar Kota Bangun untuk mengindari hipuy Long Glat, Ding “Tung”, mengambil Do’ Langit Ding Luhat sebagai isteri. Sementara Kaya:n Uma:’ Juma:n yang pernah terlibat perang dengan Long Glat di Apau Kaya:n kembali lagi ke Sarawak.

PENUTUP

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa ada dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya migrasi orang Kaya:n, yaitu masalah ekonomi dan peperangan. Tetapi nampaknya peperangan lebih mendominasi perjalanan sejarah mereka.

Sejarah ekspansi suku Kaya:n telah dimulai sebelum abad ke-15 di Sarawak dan baru berakhir awal abad ke-20 di Kalimantan Timur. Selama kurun waktu lebih dari 500 tahun tersebut, orang Kaya:n telah membawa perubahan dramatik terhadap kawasan pedalaman. Mereka mengubah nama-nama tempat, mengganti nama-nama sungai, menyebakan perubahan distribusi etnik, melakukan aliansi dengan berbagai suku, dan menganeksasi berbagai wilayah. Mereka berhasil memperluas wilayah teritorial melampaui luas wilayah empat Kesultanan Melayu (Kutai, Brunei, Bulungan dan Berau) digabung jadi satu.

Ada dua kekuatan utama yang dimiliki oleh orang Kaya:n di masa lalu. Pertama adalah kekuatan senjata. Orang Kaya:n dikenal suka berburu kepala manusia dan dan mahir berperang. Kekuatan senjata ini didukung dengan penguasaan terhadap sumber daya alam seperti hasil-hasil hutan dan sarang burung walet. Karena dua kekuatan inilah maka mereka sangat diandalkan oleh para sultan Kutai, Berau, Bulungan dan Tidung. Tetapi orang Kaya:n masa kini ibarat macan tua yang sakit-sakitan, ompong, dan tidak memiliki kuku lagi. Apakah orang Kaya:n ini hanya menunggu kematian? Ataukah, bangkit berjuang untuk merebut kembali kejayaan seperti di masa lalu?

Dalam bagian 3, kita akan mencari tahu bagaimana orang Kaya:n di masa lampau membangun kekuatan mereka yang hebat. Mungkin orang Kaya:n masa kini bisa belajar dari kearifan para leluhurnya.

Ucapan Terima Kasih

1). Terima kasih kepada Ibu Mika Okushima, Ph.D. dari Tokyo, Japan, yang telah berbaik hati mengirim referensi tentang sejarah etnik Kaya:n dan Tidung kepada saya.

2). Terima kasih kepada temanku yg baik, Margreta Seting Beraan, Kaya:n dari Meka:m, yang telah menyediakan foto 3 dan foto 4.

3). Terima kasih juga kepada temanku yg baik, Fery Sape, Kaya:n dari Medala:m, yang telah berbagi foto 5, foto 6 dan foto 7.

Daftar Istilah

Aliansi atau persekutuan

Hubungan antara dua atau lebih kelompok yang didasarkan atas perkawinan, kepentingan bersama, dll.

Aneksasi

Pengambilalihan suatu wilayah lewat penaklukan atau pendudukan.

Ekspansi

Keadaan membesar dalam volume atau meluas dalam ukuran wilayah.

Hegemoni

Dominasi sebuah kekuatan atas kelompok sosial lainnya.

Kekuatan dominan

Kekuatan (militer, politik, ekonomi) yang mampu mengontrol, mempengaruhi atau menguasai pihak lain.

Migrasi

Perpindahan sekelompok orang atau binatang dari satu tempat ke tempat lain.

Referensi

1. Okushima, Mika. “Ethnohistory of The Kayanic Peoples in Northeast Borneo (part 2): Expansion, Regional Alliance Groups, and Segai Disturbances in The Colonial Era.” Borneo Research Bulletin, Vol 39, 2008. University of Helsinki, Finland

2. Okushima, Mika. “Wet Rice Cultivation and The Kayanic Peoples of East Kalimantan: Some Possible Factors Explaining Their Preference For Dry Rice Cultivation”. Borneo Research Bulletin, Vol 30,1999. University of Helsinki, Finland

3. http://www.thefreedictionary.com

“If you have knowledge, let others light their candles in it.” (Margaret Fuller)

Oleh: Belawaan Mekaam

Click ‘bar’  below to listen to Sape’ music :

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

2 Responses + Add Comment

  • hye..
    akui kayan..ikem meteng ikak tentang adet kayan tek joh mantera..nun kayan anih tek pantun lim kah ya??
    kui na thesis tentang kayan..sosiolinguistik kayan. tek bup tentang kayan ya? deng promote tek akui nun bup anan n tajuk nak..
    really need ur help..

    • Ok,i’ll do it.just inform me at my facebook Noel Anyi Wan.

SAPE' MUSIC and CRAFT

Orang Ulu Musical

It is all about the harmonic sound of the Orang Ulu music and the majestic creation of the Orang Ulu crafts. The sound of the Sape' and the wonderful beauty of the crafts represent the identity and dignity in the people and connect them to their past. The melodies provide an ambient back drop for relaxed listening and the crafts show the high value of it's people towards creative arts.

Poll

Slideshow

Get the Flash Player to see the slideshow.